Selasa, 15 September 2020

Uji Kompetensi 2 (Class XI)

 Assalamualaikum warahmatuhi wabarakatuh

untuk materi Aswaja tgl 23/09/2020 mengerjakan Uji Kompetensi 2 yang ada di kitab di Hal 22 sd 24 

Mulai pilihan Ganda dan Uraiannya.TUGAS DIKIRIM MELALUI WA disertakan nama Lengkap dan jangan lupa isi presensi kehadiran. 👍💪

Presensi Kehadiran 

Uji Kompetensi 1 (Class XI)


 Assalamualaikum warahmatuhi wabarakatuh

untuk materi Aswaja tgl 16/09/2020 mengerjakan Uji Kompetensi 1 yang ada di kitab di Hal 10 sd 11 

Mulai pilihan Ganda dan Uraiannya.TUGAS DIKIRIM MELALUI WA disertakan nama Lengkap dan jangan lupa isi presensi kehadiran. 👍💪

Presensi Kehadiran 

Uji Kompetensi 1 (Class X)

 Assalamualaikum warahmatuhi wabarakatuh

untuk materi Aswaja tgl 16/09/2020 mengerjakan Uji Kompetensi 1 yang ada di kitab di Hal 14 sd 16 

Mulai pilihan Ganda dan Uraiannya.TUGAS DIKIRIM MELALUI WA disertakan nama Lengkap dan jangan lupa isi presensi kehadiran. 👍💪

Presensi Kehadiran

Minggu, 13 September 2020

Sumber Hukum Islam ke 2 ( HADIST)

 


sumber hukum islam hadis shaib bukhari musllim
sumber hukum islam | pujiantoalbandary.wordpress.com

1. Pengertian Hadis

Menurut para ahli, hadis identik dengan sunah, yaitu segala perkataan, perbuatan, takrir (ketetapan), sifat, keadaan, tabiat atau watak, dan sirah (perjalanan hidup) Nabi Muhammad SAW, baik yang berkaitan dengan masalah hukum maupun tidak, namun menurut bahasa, hadis berarti ucapan atau perkataan.

Adapun menurut istilah, hadis adalah ucapan, perbuatan, atau takrir Rasulullah SAW yang diikuti (dicontoh) oleh umatnya dalam menjalani kehidupan.

2. Kedudukan Hadis

Sebagai sumber hukum Islam, kedudukan hadis setingkat di bawah Al Quran. Allah berfirman dalam Surah Al Hasyr [59] ayat 7 sebagai berikut.

sumber hukum islam al hasyr 7

Selain itu, hadis yang diriwayatkan Imam Malik dan Hakim menyebutkan bahwa Tasulullah meninggalkan dua hal yang jika berpegang teguh kepada keduanya manusia tidaka akan tersesat. Dua hal tersebut, yaitu Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW atau Hadis.

Hadis merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran. Dalam perkembangan dunia yang serba global ini, berbagai ketidakpastian selalu menerpa kehidupan umat manusia sehingga banyak orang yang bingung dan menemui kesesatan.

Rasulullah SAW sudah mengantisipasinya dengan menurunkan atau mewasiatkan dua pusaka istimewa, yaitu Kitabullah (Al Quran) dan Suanah (hadis).

Barangsiapa yang memegang teguh kedua pusakan tersebut, dia akan selamat di dunia dan di akhirat. Manusia yang berpedoman kepada hadis akan selamat. Maksudnya, ia senantiasa menjalankan kehidupan ini sesuai dengan Al Quran dan hadis Rasulullah SAW .

Al quran sudah dijamin kemurniannya oleh Allah. Namun, tidak demikian dengan hadis. Oleh karena itu, sampai saat ini Anda mengenal adanya hadis sahih (benar) dan hadis maudu’ (palsu).

Berbeda dengan Al Quran yang sempai saat ini tidak ada pembagian ayat sahih dan ayat maudu’, karena semua ayat dalam Al Quran adalah benar.

3. Fungsi Hadis terhadap Al Quran

Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Allah bertugas menjelaskan ajaran yang diturankan Allah SWT melalui Al Quran kepada umat manusia. Sunah Rasulullah SAW tersebut mendukung atau menguatkan dan menjelaskan hukum yang ada dalam Al Quran.

Fungsi hadis terhadap Al Quran dapat dikelompokkan sebagai berikut.

  • Menjelaskan ayat-ayat Al Quran yang bersifat umum. Contohnya, dalam Al Quran terdapat ayat tentang shalat. Ayat tersebut dijelaskan oleh hadis sebagai berikut : “Shalatlah kamu sebagaimana aku shalat”.
  • Memperkuat pernyataan yang ada dalam Al Quran. Contohnya, dalam Al Quran ada ayat sebagai berikut : “Barangsiapa di antara kamu yang melihat bulan maka berpuasalah”. Ayat tersebut diperkuat olah hadis Rasulullah sebagai berikut : “Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihat bulan”.
  • Menerangkan maksud dan tujuan ayat. Contohnya, dalam Surah At Taubah [9] ayat 34 dikatakan :
    Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah, gembirakanlah mereka degan azab yang pedih.” Ayat tersebut dijelaskan oleh hadis berikut :
    “Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati.”.
  • Menerapkan hukum atau aturan yang tidak disebutkan secara zahir dalam Al Quran.

4. Macam-macam Hadis

Diriwayatkan dari segi banyak sedikitnya orang yang meriwayatkan (perawi), hadis dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

  1. Hadis Mutawatir
    Hadis Mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak sahabat. Kemudian, diteruskan oleh generasi berikutnya yang tidak memungkinkan mereka sepakat untuk berdusta. Hal ini disebabkan banyaknya orang yang meriwayatkannya.
  2. Hadis Mayhur
    Hadis Mayhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih yang tidak mencapai derajat mutawatir. Namun, setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in yang mencapai derajat mutawatir sehingga tidak memungkinkan jumlah tersebut akan sepakat berbohong.
  3. Hadis Ahad
    Hadis Ahad  adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu atau dua orang saja, sehingga tidak mencapai derajat mutawatir.

Ditinjau dari segi kualitas perawinya, hadis dapat dibagi menjadi empat, yaitu sebagai berikut.

  1. Hadis Shaih
    Hadis Shaih adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanad yang bersambung, tidak cacat, dan tidak bertentangan dengan riwayat orang yang lebih terpercaya.
  2. Hadis Hasan
    Hadis Hasan adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat ingatannya, sanad-nya bersambung, tidak cacat, dan tidak bertentangan.
  3. Hadis Da’if
    Hadis Da’if adalah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat yang dipenuhi hadis sahih atau hasan.
  4. Hadis Maudu’
    Hadis Maudu’ adalah hadis palsu yang dibuat orang atau dikatakan orang sebagai hadis, padahal bukan hadis.

Sabtu, 12 September 2020

Dakwah Secara Sembunyi Nabi Muhammad SAW

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh 
Anak-anak materi hari ini ada di LKS SKI hal 16 sd 18 wajib dibaca dan isi Absensi 

Jumat, 11 September 2020

Dakwah Nabi Muhammad SAW Secara sembunyi sembunyi

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
Anak-anak amati tayangan Vidio dibawah ini 👇


1. Mengapa Nabi Muhammad SAW Berdakwah secara sembunyi 
2. Siapa yang menjadi sasaran Dakwah Nabi Muhammad SAW pada masa dakwah secara sembunyi
3. Resiko apa yang diterima Nabi pada masa dakwah secara sembunyi
4. Siapa saja yang masuk Islam pada masa dakwah secara sembunyi.
5. Tuliskan ayat tentang dakwah secara sembunyi 

Selasa, 08 September 2020

Latihan 1

 

SOAL LATIHAN ASWAJA KELAS XI

1.     Apa yang dimaksud dengan Ijtihad !

2.     Sebutkan syarat-syarat untuk melakukan Ijitihad !

3.     Sebutkan syarat-syarat untuk melakukan Istinbath !

4.     Apa pengertian dari Taqlid dan sebutkan syarat-syarat taqlid!

5.     Sebutkan komponen-komponen yang menjadi makna pokok dalam al-ittiba’ di Islam

 

Presensi Kehadiran
 

JAWABAN DIKIRIM LEWAT WA DISERTAI NAMA LENGKAP, BATAS TERAKHIR PENGUMPULAN TUGAS JAM 24.00 WIB

 

 

Strategi Penyebaran Islam di Nusantara

STRATEGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA

Beberapa literatur menyebutkan bahwa sejarah perkembangan Islam di Indonesia berawal dari masuknya Islam ke Indonesia melalui jalur perdagangan

Agama Islam kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia melalui beberapa jalur dan media seperti perdagangan, perkawinan, pendidikan, tasawuf, kesenian, dan politik. Proses ini masih berlangsung hingga kini.

Masuknya Islam ke Indonesia

Para ahli sejarah menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, sementara sejarahwan asing menyatakan pada abad ke-13 M. Meskipun masih terjadi perdebatan mengenai kepastian kapan masuknya Islam ke Indonesia, apakah abad ke-7 M atau abad ke-13 M, para ahli sejarah di Indonesia sepakat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M.

Hal ini dibuktikan dengan beberapa hal sebagai berikut.

1. Adanya jalur perdagangan yang menghubungkan Arab-Indonesia-Tiongkok

Seorang arkeolog dunia bernama Peter Bellwood dan sejarahwan bernama G.R Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya jalur perdagangan yang menghubungkan Arab-Indonesia-Tiongkok Jalur perdagangan ini telah ada sejak dua abad sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir. Selain itu, ditemukan pula barang-barang peninggalan dari Dinasti Han dan dinasti-dinasti setelahnya di daerah Sumatera dan Jawa Timur.

2. Ditemukannya perkampungan Arab-Muslim di Barus

Berdasarkan dokumen kuno Tiongkok, di masa kekuasaan kerajaan Sriwijaya, terdapat perkampungan Arab-Muslim yang terletak di Barus. Perkampungan ini telah ada sejak tahun 625 M atau sembilan tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah secara terang-terangan. Karena itulah, beberapa sumber dan literatur menyebutkan bahwa Barus merupakan pintu masuknya Islam ke Indonesia untuk pertama kali. Barus sendiri merupakan nama sebuah kota sekaligus bandar niaga yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera yang telah dikenal sejak 5000 tahun SM.

3. Ditemukannya makam kuno bercorak Islam

Selain perkampungan Arab-Muslim, di Barus juga ditemukan makam kuno bercorak Islam. Adapun pada batu nisan tersebut tertulis Syeikh Rukunuddin yang wafat pada tahun 672 M. Selain di Barus, ditemukan makam kuno bercorak Islam lainnya di Leran, Gresik dengan batu nisan bertuliskan Fatimah binti Maimun yang meninggal di abad ke-11 M.

Metode Penyebaran Islam di Indonesia

Terdapat beberapa metode penyebaran agama Islam di Indonesia, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Perdagangan

Berbeda dengan sejarah perkembangan Islam di Eropa yang masuk melalui jalur kekuasaan, sejarah mencatat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Bukti-bukti yang dikemukakan oleh para ahli menunjukkan adanya jalur perdagangan Arab-Indonesia-Tiongkok lima abad sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir. Dalam perkembangannya, para pedagang muslim yang berasal dari Arab memanfaatkan jalur perdagangan ini sebagai media penyebaran agama Islam yang efektif.

2. Perkawinan

Metode penyebaran agama Islam di Indonesia berikutnya adalah perkawinan. Para pedagang Arab-Muslim menikah dengan perempuan pribumi yang sebelumnya telah diislamkan terlebih dahulu termasuk keluarganya. Mereka kemudian membentuk sebuah komunitas muslim di lingkungan mereka sendiri. Ada juga perempuan muslim yang menikah dengan kaum bangsawan pribumi. Metodenya sama, sang bangsawan harus diislamkan terlebih dahulu. Contoh metode penyebaran agama Islam di Indonesia adalah perkawinan antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila atau Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten.

3. Pendidikan

Selain melalui jalur perdagangan dan perkawinan, agama Islam di Indonesia juga disebarkan melalui jalur pendidikan. Berbagai lembaga pendidikan seperti pesantren didirikan oleh para ulama di Jawa sebagai upaya untuk mengajarkan serta mengembangkan agama Islam tidak hanya di Jawa tapi ke seluruh Indonesia.

4. Tasawuf

Agama Islam berkembang dengan sangat cepat karena sangat akomodatif dengan budaya lokal sehingga masyarakat Indonesia dengan mudah menerima ajaran agama Islam. Para sufi yang mengajarkan agama Islam melalui tasawuf di antaranya adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Sunan Panggung dan Syeikh Lemah Abang di Jawa. Ajaran tasawuf masih berlangsung dan dianut hingga kini.

5. Kesenian

Metode penyebaran agama Islam di Indonesia lainnya yang tak kalah menarik adalah kesenian. Di Jawa, agama Islam disebarluaskan juga melalui kesenian, utamanya wayang. Salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam melalui kesenian wayang adalah Sunan Kalijaga. Kisah-kisah yang ditampilkan biasanya diambil dari kisah Ramayana atau Mahabarata namun dengan muatan berisi ajaran Islam dengan tokoh nama-nama pejuang muslim. Kesenian lainnya yang dijadikan metode penyebaran agama Islam adalah seni pahat, seni ukir, seni arsitektur, seni tari, seni musik, dan seni sastra. Adapun contoh bangunan arsitektur bercorak Islam adalah Mesjid Agung Demak, Masjid Kudus, Mesjid Agung Banten, dan lain sebagainya. 

6. Politik

Metode lain yang digunakan dalam penyebaran agama Islam di Indonesia adalah politik. Sebagaimana diketahui bahwa pada zaman dahulu, Indonesia masih terdiri dari kerajaan-kerajaan. Beberapa kerajaan Islam berhasil menaklukan kerajaan Hindu/Budha. Masyarakat pun dengan mudah masuk Islam karena sang raja telah memeluk agama Islam.

 Presensi Kehadiran

 

 

Runtuhnya Dinasti Umayyah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain: 1. Sistem p...