Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2021

Runtuhnya Dinasti Umayyah


Ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain:
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah suatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang idak sehat di kalangan anggota keluarga istana.

2. Latar belakang terbentuknya Dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.

3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagian besar golongan Mawali (non-Arab), terutama di Irak dan bagian Timur lainnya, merasa tidak puas karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keampuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.

4. Lemahnya pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khlifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.

5. Penyebab langsung tergulingnya Dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuasaan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al Muthalik. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah, dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

Akumulasi dari berbagai penyebab tersebut serta gabungan dari faktor faktor lainnya yang mungkin tidak diuraikan dalam pembahasan ini, mengantar dinasti yang hampir satu abad berkuasa ini ke jalan keruntuhannya. Dinasti Bani Umayyah diruntuhkan oleh kekuatan politik Dinasti Bani Abbasiyah pada masa Khalifah Marwan bin Muhammad pada 127 H (744 M).

Presensi Kehadiran


Rabu, 27 Januari 2021

Uji Kompetensi 1 Class X

ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Anak-anak untuk materi hari ini kerjakan Uji kompetensi di kitab hal 13 sd 15 pilihan ganda dan uraian yang sudah mengerjakan kirim di WA saya. 
Tuliskan namamu dibawah ini bagi yang sudah mengerjakan. Teruslah semangat untuk belajar. 🤲💪

1. ......... 
2. ......... 

Sabtu, 23 Januari 2021

Kebijakan Abu Bakar

KEBIJAKAN KEPEMERINTAHAN KHULAFAUR RASYIDDIN
A.    ABU BAKAR AS SHIDIQ
Abu bakar adalah putra Usman, silsilahnya dengan Rosullah pada Ka’ab Bin Luai. Panggilan Abu Bakar As Shiddiq sebenarnya adalah sebagai gelar saja. Abu artinya bapak, sedangkan Bakar artinya dengan segera. Beliau diberi nama demikian karena beliau masuk islam dengan segera, mendahului yang lain. Kemudia As Shiddiq artinya yang amat membenarkan. Karena beliau sangat membenarkan berbagai pengalaman dan ajaran yang dibawa oleh Rasululloh terutama pada peristiwa Isro’ Mi’roj. Beliau lahir pada tahun 568 M. ibunya bernama Salma Ummul Khoir yaitu anak dari paman Abu Qihafa.
Tentang pribadi Abu Bakar terkenal sebagai orang yang berakhlaq mulia, jujur, cerdas, cakap, kuat kemauan dan pemberani,serta beliau terenal sebagai orang yang rendah hati, pemaaf dan dermawan.
2.    Kepemimpinan dan kebijakan Abu Bakar As Shiddiq.
a)    Memerangi tiga golongan yang mengacaukan islam.
Pada masa awal kepemimpinanya, Abu Bakar banyak mengahadapi gangguan dari berbagai golongan antara lain: orang-orang murtad, golongan yang tidak membayar zakat, dan golongan orang-orang yang mengaku menjadi Nabi. Adanya orang-orang murtad karena mereka belum memahami Islam seacara mendalam.Mereka baru taraf pengakuan atau masuk Isalam karena terpaksa.Golongan yang tidak membayar zakat kebanyakan berasal dari kabilah yang tinggal di Madinah seperti Bani Qothfah, Bani Bakr.Mereka beranggapan bahwa membayar zakat hanya kepada Rasulullah, apabila Rasullulah meninggal maka tidak ada lagi kewajiban membayar zakat.Sedangkan orang-orang yang mengaku sebagai nabi telah muncul hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah.
Mereka semakin berani melakukan kekacauan atas nama agama. Diantara orang yang mengaku Nabi adalah:
1)   Musailamah Al Kadzab dari Bani Hanifah.
2)   Thulaikha Bin Khuwailid dari Bani As’ad.
3)   Saj’ah Tamimiyah dari Bani Tamim.
4)   Aswad Al Ansi dari Yaman.

b)   PengumpulanMushaf Al-Qur’an
Perang Yamamah merupakan perang dalam menumpas orang-orang murtad yang mengkhwatirkan Umar Bin Khottob. Dalam perang Yamamah terdapat 1200 tentara islam yang gugur syahid dan diantaranya adalah sahabat yang hafal Al Qur’an. Kekhawatiran Umar mendorong untuk mengusulkan kepada kholifah Abu Bakar agar mengumpulkan Al Qur’an dengan alas an agar al Qur’an tidak hilang dan tetap lestari.Perdebatan terjadi antara Umar dan Abu Bakar, Abu Bakar menolak karena Rasulullah tidak pernah meerintahkan sebelumnya.Tetapi atas penjelasan Umar Bin Khottob yang rasional maka Abu Bakar menerima usul itu dan mengumpulkan lembaran-lembaran Al Qur’an yang dihimpun oleh Zaid Bin Tsabit. Pengumpulan Al Qur’an dilakukan dengancara mengumpulkan Al Qur’an yang di tulis di tulang, pelepah (kulit) kayu, lempengan batu kemudian disalin oleh Zaid Bun Tsabit di atas kulit hewan yang sudah di samak. Lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al Qur’an yang telah dikumpulkan, di simpan di rumah Abu Bakar hingga meninggal.Kemudian disimpan oleh Umar hingga meninggal dunia.Dan akhirnya disimpan di rumah Khafsah BintiUmar.
c)    Perluasan Wilayah
Pada tahun ke 12 setelah hijroh Abu Bakar mengirim pasukan ke Irak yang dipimpin oleh Kholid Bin Walid dan dibantu oleh Al Mustsanna Bin Haritsah dan Qo’qok Bin Amr, Irak pada waktu itu jajahan kerajaan Persia, sebelumnya Kholid Bin Walid telah mengirim surat kepada Hormuz panlima perang Persia agar masuk Islam. Tetapi Hoymuz menolak dan lebih baik berperang melawan pasukan (Islam dari pada masuk Islam.Dalam peperangan ini pasukan Islam mendapat kemenagan.Daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh pasukan Isalm adalah Mazar, Walajah, Allis, Hirrah, Anbar, Annuttamar, dan Daumatul Jandal.
Untuk menaklukkan Syiria Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin oleh Usman Bin Zaid Bin Haritsyah. Pasukan islam berhasil mengusai negeri Qudho’ah, sedangkan untuk memperluas wilayah Islam Ke Syria lainnya, Abu Bkar mengirimpasukan lainnya. Kedaerah Palestina dipimpin oleh Amr Bin Ash, ke Roma oleh Ubaid Bin Jarroh, ke Damaskus dipimpin oleh Yazid Bin Mu’awiyah, ke Yordania dipimpin Syurahbil Bin Hasanah.
Untuk mengahdapi pasukan Islam, Pasukan Romawi yang dipimpin oleh Heraklius mempersiapkan pasukan yang cukup besar. Pasukan Islam juga bersatu dalam satu front besar. Kedua psukan tersebut bertenu di salah satu tenmpat bernama Yarmuk. Peperangan Yarmuk baru berakhir pada masa pemerintahan Umar Bin Khottob

Rabu, 20 Januari 2021

Pemerintahan Abu Bakar As Shiddiq

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah (pengganti Nabi) sebagaimana dijelaskan pada peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah, merupakan bukti bahwa Abu Bakar menjadi Khalifah bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi hasil dari musyawarah mufakat umat Islam. Dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi Khalifah, maka mulailah beliau menjalankan kekhalifahannya, baik sebagai pemimpin umat maupun sebagai pemimpin pemerintahan. Adapun sistem politik Islam pada masa Abu Bakar bersifat “sentral”, jadi kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah, meskipun demikian dalam memutuskan suatu masalah, Abu Bakar selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Sedang kebijaksanaan politik yang diilakukan Abu Bakar dalam mengemban
kekhalifahannya yaitu:
1. Mengirim pasukan dibawah pimpinan Usamah bin Zaid, untuk memerangi kaum Romawi sebagai realisasi dari rencana Rasulullah, ketika beliau masih hidup. Sebenarnya dikalangan sahabat termasuk Umar bin Khatab banyak yang tidak setuju dengan kebijaksanaan Khalifah ini. Alasan mereka, karena dalam negeri sendiri pada saat itu timbul gejala kemunafikan dan kemurtadan yang merambah untuk
menghancurkan Islam dari dalam. Tetapi Abu Bakar tetap mengirim pasukan Usamah untuk menyerbu Romawi, sebab menurutnya hal itu merupakan perintah Nabi SAW. Pengiriman pasukan Usamah ke Romawi di bumi Syam pada saat itu merupakan
langkah politik yang sangat strategis dan membawa dampak positif bagi pemerintahan Islam, yaitu meskipun negara Islam dalam keadaan tegang akan tetapi muncul interprestasi dipihak lawan, bahwa kekuatan Islam cukup tangguh. Sehingga para
pemberontak menjadi gentar, disamping itu juga dapat mengalihkan perhatian umat Islam dari perselisihan yang bersifat intern (Said bin al Qathani, 1994:166-167).
2. Timbulnya kemunafikan dan kemurtadan. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka segala perjanjian dengan Nabi menjadi terputus. Adapun orang murtad pada waktu itu ada dua yaitu :
a. Mereka yang mengaku nabi dan pengikutnya, termasuk di dalamnya orang yang
meninggalkan sholat, zakat dan kembali melakukan kebiasaan jahiliyah.
b. Mereka membedakan antara sholat dan zakat, tidak mau mengakui kewajiban zakat dan mengeluarkannya.
Dalam menghadapi kemunafikan dan kemurtadan ini, Abu Bakar tetap pada prinsipnya yaitu memerangi mereka sampai tuntas.
3. Mengembangkan wilayah Islam keluar Arab. Ini ditujukan ke Syiria dan Persia. Untuk perluasan Islam ke Syiria yang dikuasai Romawi (Kaisar Heraklius), Abu Bakar menugaskan 4 panglima perang yaitu Yazid bin Abu Sufyan ditempatkan di Damaskus, Abu Ubaidah di Homs, Amir bin Ash di Palestina dan Surahbil bin Hasanah di Yordan. Usaha tersebut diperkuat oleh kedatangan Khalid bin Walid dan pasukannya serta Mutsannah bin Haritsah, yang sebelumnya Khalid telah berhasil mengadakan perluasan ke beberapa daerah di Irak dan Persia (Misbach dkk., 1994:9). Dalam peperangan melawan
Persia disebut sebagai “pertempuran berantai”. Hal ini karena perlawanan dari Persia yang beruntun dan membawa banyak korban. Adapun kebijakan di bidang pemerintahan yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah:
1. Pemerintahan Berdasarkan Musyawarah
Apabila terjadi suatu perkara, Abu Bakar selalu mencari hukumnya dalam kitab Allah. Jika beliau tidak memperolehnya maka beliau mempelajari bagaimana Rasul bertindak dalam suatu perkara. Dan jika tidak ditemukannya apa yang dicari, beliaupun mengumpulkan tokoh-tokoh yang terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah. Apapun
yang diputuskan mereka setelah pembahasan, diskusi, dan penelitian, beliaupun menjadikannya sebagai suatu keputusan dan suatu peraturan.
2. Amanat Baitul Mal
Para sahabat Nabi beranggapan bahwa Baitul Mal adalah amanat Allah dan masyarakat kaum muslimin. Karena itu mereka tidak mengizinkan pemasukan sesuatu kedalamnya dan pengeluaran sesuatu darinya yang berlawanan dengan apa yang telah ditetapkan oleh syari’at. Mereka mengharamkan tindakan penguasa yang menggunakan Baitul Mal untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi.
3. Konsep Pemerintahan
Politik dalam pemerintahan Abu Bakar telah beliau jelaskan sendiri kepada rakyat banyak dalam sebuah pidatonya : “Wahai manusia ! Aku telah diangkat untuk
mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kamu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, maka bantulah (ikutilah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah ! orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat mengambil hak daripadanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah, aku pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan hak kepadanya. Maka hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun
bilamana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kamu tidaklah perlu mentaatiku.
4. Kekuasaan Undang-undang Abu Bakar tidak pernah menempatkan diri beliau diatas undang-undang. Beliau juga tidak pernah memberi sanak kerabatnya suatu kekuasaan yang lebih tinggi dari undangundang.
Dan mereka itu dihadapan undang-undang adalah sama seperti rakyat yang lain, baik kaum Muslim maupun non Muslim.
D. Penyelesaian Kaum Riddat Kekhalifahan Abu Bakar yang begitu singkat sangat disibukkan dengan peperangan. Dalam pertempuran itu tidak hanya melawan musuh-musuh Islam dari luar, tetapi juga
dari dalam. Hal ini terjadi karena ada sekelompok orang yang memancangkan panji pemberontakan terhadap negara Islam di Madinah dan meninggalkan Islam (murtad) setelah Rasulullah wafat.Gerakan riddat (gerakan belot agama), bermula menjelang Nabi Muhammad jatuh sakit. Ketika tersiar berita kemangkatan Nabi Muhammad, maka gerakan belot agama itu meluas di wilayah bagian tengah, wilayah bagian timur, wilayah bagian selatan sampai ke
Madinah Al-Munawarah serta Makkah Al-Mukaramah itu sudah berada dalam keadaan terkepung. Kenyataan itu yang dihadapi Khalifah Abu Bakar.
Gerakan riddat itu bermula dengan kemunculan tiga tokoh yang mengaku dirinya Nabi, guna menyaingi Nabi Muhammad SAW, yaitu: Musailamah, Thulhah, Aswad Al-Insa. Musailamah berasal dari suku bangsa Bani Hanifah di Arabia Tengah, Tulaiha seorang
kepala suku Bani Asad, Sajah seorang wanita KRISTEN dari Bani Yarbu yang menikah dengan Musailamah (Afandi dkk, 1995:94-95). Masing-masing orang tersebut berupaya meluaskan pengikutnya dan membelakangi agama Islam. Para nabi palsu tersebut pada umumnya menarik hati orang-orang Islam dengan membebaskan prinsip-prinsip moralis dan upacara keagamaan seperti membolehkan minum-minuman keras, berjudi, mengurangi sholat lima waktu menjadi tiga, puasa Ramadhan dihapus, pengubah pembayaran zakat yang wajib menjadi suka rela dan
meniadakan batasan dalam perkawinan. Dalam gerakannya Aswad dan kawan-kawannya berusaha menguasai dan mempengaruhi masyarakat Islam, dengan mengerahkan pasukan untuk masuk ke daerah daerah. Akhirnya pasukan riddatpun berhasil menyebar kedaerah-daerah, diantaranya:
Bahrain, Oman Mahara dan Hadramaut. Para panglima kaum riddat semakin gencar melaksanakan misinya.
Akan tetapi Khalifah Abu Bakar tidak tinggal diam, beliau berusaha untuk memadamkan dan menumpas gerakan kaum riddat. Dengan sigap Khalifah Abu Bakar membentuk sebelas pasukan dan menyerahkan al-liwak (panji pasukan) kepada masingmasing
pasukan. Di samping itu, setiap pasukan dibekali al-mansyurat (pengumuman) yang harus disampaikan pada suku-suku Arab yang melibatkan dirinya dalam gerakan riddat. 

Sabtu, 16 Januari 2021

Sosok Pribadi Abu Bakar As Shiddiq

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Untuk materi hari ini anak-anak melihat Vidio dibawah ini. Jangan lupa Presentasi kehadiran wajib di isi 


Sabtu, 09 Januari 2021

Sejarah Lahirnya Khulafaur Rasyidin

Sejarah Lahirnya Khulafaur Rasyidin

Assalamualaikum anak-anakku untuk materi hari ini tanggal 10/01/2020 adalah melihat vidio dibawah ini. jangan lupa Absensi Kehadiran wajib di Isi sebagai bukti mengikuti mengikuti pembelajaran daring. 

Sejarah lahirnya Khulafaur Rasyidin

Presensi Kehadiran



Rabu, 11 November 2020

Rabu, 21 Oktober 2020

Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh

untuk materi hari ini tgl 05/11/2020 mari kita lihat bersama perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW menuju kota MADINAH lihat link dibawah ini 

Hijrah Nabi Muhammad SAW

SOAL

1. Apa yang melatarbelakangi Nabi Hijrah ke Madinah!

2. Sebutkan nama-nama suku yang melindungi Nabi Muhammad SAW di Madinah!

3. Sebutkan ancaman-ancaman yang di dapatkan Nabi Muhammad SAW ketika Hijrah ke Madinah!

4. Berapa lama Nabi Muhammad SAW bersemunyi di Gua Tsur!

5. Berapa jumlah pengikut Nabi yang ikut Hijrah pertama!

Presensi Kehadiran

 

Rabu, 23 September 2020

Dakwah Nabi Muhammad SAW secara terang-terangan

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh untuk materi hari ini tgl 24/09/202 klik link dibawah ini 👇

https://youtu.be/LeU1tQHERdw

Rabu, 16 September 2020

Dakwah Secara Terbuka

Sirah Nabawiyah kali ini akan membahas tentang dakwah terang-terangan. Sebelumnya, kita telah membahas Dakwah Sembunyi-Sembunyi.

Selama sekitar tiga tahun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Di antara hasilnya, Rasulullah mendapatkan 40 hingga 50 orang assabiqunal awwalun. Merekalah sahabat nabi yang paling awal masuk Islam. Mayoritasnya adalah para pemuda.

Dakwah secara Terangan Terangan

Allah menurunkan perintah untuk berdakwah secara terang-terangan, dimulai dengan firman-Nya:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (QS. Asy Syu’ara: 214)

Setelah menerima perintah tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengundang keluarga terdekatnya, Bani Hasyim. Rasulullah menjamu mereka. Ketika Rasulullah ingin berbicara di forum yang dihadiri 45 orang laki-laki itu, tiba-tiba Abu Lahab memotongnya.

Rasulullah tak putus asa meskipun pertemuan pertama gagal. Beliau pun mengundang mereka lagi. Kali ini, beliau mendapat dukungan dari Abu Thalib, meskipun Abu Lahab masih sama menampakkan permusuhannya.

Setelah mendapat dukungan dari Abu Thalib, Rasulullah mulai memperluas seruan dakwahnya. Beliau naik ne bukit Shafa dan memanggil orang-orang Quraisy secara terbuka.

“Wahai Bani Fihr, Wahai Bani Adi!” Rasulullah menyeru suku-suku Quraisy hingga mereka berdatangan. “Bagaimana menurut pendapat kalian bila kuberitahukan bahwa di balik bukit ini ada segerombolan pasukan berkuda yang akan menyerang kalian? Apakah kalian mempercayaiku?”

“Ya, kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran,” jawab mereka.

Demikianlah kecerdasan Rasulullah. Beliau memulai dengan menguji tingkat kepercayaan mereka atas integritas beliau. Selama ini tak ada satu pun cacat yang mereka dapati. Bahkan mereka memberikan julukan al amin kepada beliau karena tak pernah berdusta, senantiasa jujur dan paling dipercaya.

Dan hendaklah ini yang perlu dijaga oleh para dai. Senantiasa jujur dan menjauhi dusta. Sebab integritas adalah modal utama. Jika integritasnya cacat, bagaimana orang-orang akan percaya kepadanya. Jika integritasnya rusak, mereka akan mudah membalik perkataan dai dan menyerangnya.

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian terhadap azab yang amat pedih,” lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mendengar seruan Rasulullah, Abu Lahab menimpali. “Celaka engkau Muhammad. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Maka Allah menurunkan Surat Al Lahab yang menegaskan kecelakaan baginya.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ . مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ . سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ . وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ . فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Binasalah kedua tangan Abu lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang dilehernya ada tali dari sabut. (QS. Al Lahab: 1-5)

Presensi kehadiran

Sabtu, 12 September 2020

Dakwah Secara Sembunyi Nabi Muhammad SAW

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh 
Anak-anak materi hari ini ada di LKS SKI hal 16 sd 18 wajib dibaca dan isi Absensi 

Jumat, 11 September 2020

Dakwah Nabi Muhammad SAW Secara sembunyi sembunyi

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
Anak-anak amati tayangan Vidio dibawah ini 👇


1. Mengapa Nabi Muhammad SAW Berdakwah secara sembunyi 
2. Siapa yang menjadi sasaran Dakwah Nabi Muhammad SAW pada masa dakwah secara sembunyi
3. Resiko apa yang diterima Nabi pada masa dakwah secara sembunyi
4. Siapa saja yang masuk Islam pada masa dakwah secara sembunyi.
5. Tuliskan ayat tentang dakwah secara sembunyi 

Senin, 24 Agustus 2020

RESPON MASYARAKAT MEKKAH TERHADAP DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW

 

RESPON MASYARAKAT MEKKAH TERHADAP DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW

Respon masyarakat Mekkah terhadap dakwah Nabi adalah sebagian besar masyarakat Mekkah menolak dan sebagian kecil menerima dakwah dari Nabi Muhammad SAW. Kaum Quraisy tidak senang menerima akan kedatangan agama Islam di kehidupan mereka. Para tokoh kaum Quraisy menyebarkan isu bahwa ajaran dari Nabi Muhammad SAW tidak benar. Sehingga banyak masyarakat yang terpengaruh isu-isu tersebut.


1. Faktor yang menyebabkan ajaran Nabi Muhammad ditolak adalah

a. Ketakuan kehilangan Kekuasaan

Antara kenabian dengan kekuasaan, kaum Quraisy tidak mampu membedakannya. Kaum Quraisy menganggap bahwa jika mengikuti ajaran Nabi Muhammad maka artinya tunduk kepada Nabi Muhammad serta tunduk kepada Bani Hasyim.

b. Hilangnya Status Sosial

Adanya kasta atau penggolongan-penggolongan status sosial dalam masyarakat Quraisy. Para tokoh Quraisy pada umumnya berstatus sosial tinggi. Mereka keberatan jika status sosial disamakan dengan yang lain.

c. Hilangnya perdagangan patung

Kaum Quraisy adalah masyarakat penyembah berhala. Membuat berhala merupakan mata pencaharian dari masyarakat pada saat itu.

2. Hikmah dari sejarah dakwah Rasulullah dalam periode Mekah adalah

  • Bahwa dengan kesabaran dan keuletan untuk berjuan dalam menegakkan agama Allah pasti akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.
  • Bahwa tugas seseorang Rasul hanya menyampaikan risalah dari Allah SWT. Sehingga Rasul tidak dapat memberi hidayah atau petunjuk, bahkan kepada keluarga atau orang yang dicintai.
  • Bahwa Allah SWT.  akan menguji seseorang yang terpilih menjadi utusan atau rasul-Nya.
  • Bahwa Nabi Muhammad SAW. sangat bijaksana, cerdas dalam menggunakan kesempatan yang berharga, mampu menarik perhatian orang lain tanpa menimbulkan kebosanan.
  • Bahwa Nabi Muhammad SAW. bergelar Uswatun Hasanah. Artinya, amal perbuatan dan tingkah laku Rasulullah SAW. sehari-hari merupakan teladan yang baik.
  • Melalui dakwah Rasulullah SAW., untuk umat manusia, pada khususnya umat Islam memperoleh informasi tentang agama yang diridai Allah.
  • Melalui dakwah agama Islam, Rasulullah SAW. memberikan pemahaman tentang hak serta persamaan derajat antara kaum laki-laki dengan kaum perempuan.
  • Islam menegakkan ajaran persamaan derajat manusia dan melakukan pemberantasan perbudakan.
  • Melalui penghapusan perbudakan, maka semua manusia status derajatnya di depan Allah adalah sama.

Misi Dakwah Nabi Muhammad SAW

MISI DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW  

Secara singkat, 3 misi Nabi Muhammad SAW antara lain untuk mengajarkan tauhid, sebagai rahmatan lil alamin, dan menyempurnakan akhlak manusia serta menjadikannya mulia dan bermanfaat. Berikut penjelasannya :

1.    Mengajarkan Tauhid.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

            Artinya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Qs. An-Nahl : 36)

            Misi Rasulullah SAW yang pertama dan paling utama adalah mengajarkan tauhid. Sebelum Nabi Muhammad SAW mengajarkan tauhid, beberapa orang waktu itu masih ada yang beragama dengan cara yang benar sesuai tuntunan nabi Ibrahim, namun tidak sedikit pula orang-orang yang justru beribadah kepada Allah menggunakan perantara dan bahkan ada juga yang murni menyembah berhala.

            Diutusnya Rasulullah SAW guna meluruskan orang-orang yang menyimpang (yang mensekutukan Allah) kala itu, yaitu dengan cara mensyiarkan bahwa Allah SWT merupakan satu-satunya dzat yang wajib disembah, tidak memiliki pasangan, tidak beranak atau diperanakan dsb. Kala awal diutusnya Rasulullah SAW, orang dapat dianggap bertauhid apabila cukup menyakini bahwa Allah SWT merupakan satu-satunya dzat yang ada dan tidak boleh disekutukan dengan cara apapun.

 

2.    Menyempurnakan Akhlak serta Membangun manusia mulia dan bermanfaat

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

            Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 8952), Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 273), al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Îmân (no. 7609), al-Khara’ith dalam Makârim al-Akhlâq (no. 1), dan lainnya)

            Ketauhidan berbanding lurus dengan kesempurnaan akhlak, masyarakat kala itu walaupun tau bahwa Allah SWT itu ada, namun pengimplementasian ketauhidannya salah, yang justru menyekutukan Allah. Ketauhidan yang salah ini menjadikan akhlak masyarakat kala itu rusak, banyak poligami tanpa batas, bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut jatuh miskin dan menjadi hina, Merendahkan wanita, menyelesaikan segala permasalahan dengan perang, dsb.

            Rasulullah SAW setelah mengajarkan ketauhidan, kemudian beliau membenarkan akhlak-akhlak yang salah. Beliau mengajarkan berbagai akhlak mulia yang akhirnya menjadikan manusia kala itu meninggalkan perilaku-perilaku buruk yang sebelumnya mereka lakukan sehingga menjadikan masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang berakhlak mulia dan terpuji.

 

3.    Sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Qs. Al-Anbiya : 107)

            Misi Rasulullah SAW yang ketiga adalah sebagai Rahmatan Lil Alamin, yaitu sebagai rahmat alam semesta. Tugas sebagai Rahmatan lil alamin, bermakna bahwa Rasulullah SAW memiliki misi sebagai penebar kasih sayang, pemberi kabar gembira dan peringatan, pemberi kedamaian, dan kesejahteraan yang bukan hanya untuk orang arab, tidak juga hanya untuk orang muslim, melainkan untuk seluruh umat manusia yang ada di bumi Allah SWT.

Sebutkan bukti dari misi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah!

            Sedikit beberapa bukti dari misi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah, antara lain :

1.    Adanya gua hira dan Jabal Nur.

2.    Masyarakat yang sebelumnya  menyembah berhala, beralih mentauhidkan Allah SWT.

3.    Akhlak yang sebelumnya buruk (seperti membunuh bayi perempuan, mabuk-mabukan, sumpah palsu, dsb), berubah menjadi berakhlak baik dan mulia.

4.    Adanya kepemerintahan berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah.

5.    Perekonomian masyarakat Mekah yang menjadi maju setelah mengikuti syariat Islam.

6.    Masyarakat yang sebelumnya buta huruf, banyak yang kemudian menjadi ahli tafsir, ahli hadis, ahli sirah, dsb.

7.    Wanita yang sebelumnya sangat hina, setelah adanya Nabi Muhammad SAW derajat wanita menjadi mulia, perlu dipelihara dan dijaga.

8.    Peperangan yang sebelumnya hanya berdasarkan balas dendam, menjadi perang yang bertujuan untuk mempertahankan agama dan negara.


Absensi Kehadiran

 

Selasa, 28 Juli 2020

Sistem Peribadatan Bangsa Arab Sebelum Islam Datang

Ketika Islam lahir di Jazirah Arab, terdapat dua kerajaan besar masa itu, yaitu Persia dan Byzantium (Romawi). Kekaisaran Persia menganut agama Majusi, yang menyembah api dengan kitab suci Zend Avesta. Sedangkan kekaisaran Byzantium menganut agama Nasrani dengan kitab sucinya Injil. Bangsa Arab sendiri telah meninggalkan ajaran nabi Ibrahim as dan beralih menyembah berhala atau penganut agama wasani.



Menurut Hasan Ibrahim Hasan, Agama wasani dibawa oleh tokoh Arab bernama Amru ibn Luhay Al-Khuza'i. Ia membawa berhala atau patung dari Syam ke Ka'bah. Diceritakan bahwa Amru mengalami sakit keras, kemudian dia pergi ke Syam untuk berobat di pemandian yang sudah terkenal bisa menyembuhkan penyakit. Ketika sampai di Syam, dia mandi di tempat tersebut, dan sembuh. Di Syam, Amru melihat penduduknya menyembah berhala-berhala. Berhala-berhala tersebut kata penduduk setempat, dapat mendatangkan hujan, mengalahkan musuh, dan atas permintaan Amru, dia membawa berhala tersebut ke Mekah, kemudian meletakkannya di Ka'bah. Bukan hanya berhenti di situ, dia juga menyeru penduduk Mekah, Madinah dan Hijaz untuk menyembah berhala-berhala tersebut. Ajakan ini disambut baik oleh penduduk Mekah karena Amru dianggap sebagai tokoh yang dapat dipercaya.

Beberapa berhala yang disembah penduduk Arab sebelum Islam adalah berhala tertua dan terbesar Latta di Thaif, berhala Uzza di hijaz dan berhala Mana di Yasrib (Madinah). Berhala di lingkungan Ka'bah sendiri jumlahnya mencapai lebih dari 360 buah, sehingga memenuhi lingkungan Ka`bah. Banyaknya jumlah patung dan berhala tersebut karena setiap kabilah di Arab masing-masing memiliki berhala sendiri-sendiri sebagai sesembahan bagi mereka. Di samping beragama wasani, sebagian penduduk Arab juga beragama Yahudi, Nasrani dan Majusi.

Kebudayaan masyarakat Arab sebelum Islam sering disebut sebagai kebudayaan jahiliyah. Menurut sejarawan Ahmad Amin, jahiliyah mengandung arti sifat-sifat ringan tangan, keras, kaku dan berbangga diri pada sukunya. Kebalikan dari sifat-sifat itu adalah ketenangan jiwa, rendah hati, menyandarkan diri pada amal saleh dan bukan kepada keturunan. Kata jahiliyah berasal dari kata jahl, bukan dimaksudkan lawan dari ilm, melainkan lawan dari hilm. Sebab bangsa Arab sebelum Islam sudah mengenal beberapa cabang ilmu pengetahuan, terutama seni sastra. Julukan jahiliyah lebih disebabkan karena kondisi kemerosotan moral mereka. Sejarawan Hasan Ibrahim Hasan mengatakan, sejarah Arab sebelum Islam disebut jahiliyah karena dua faktor: Pertama, tidak ada satu kesatuan dalam bingkai satu negara dengan satu kepemimpinan yang kuat dan kokoh, mereka tidak mempunyai aturan, sehingga yang kuat bisa menindas yang lemah. Kedua, sebagian besar penduduknya buta huruf dan hanya sedikit sekali yang bisa membaca dan menulis.

Dalam kehidupan sosial, Arab jahiliyah terbiasa dengan perilaku menyimpang seperti, merampok, meminum minuman keras atau khamr, membunuh, berzina, sampai mengubur anak perempuan
hidup-hidup. Pada aspek kehidupan politik dan hukum, kehidupan mereka tidak ada persatuan antar beberapa suku, bahkan mereka terbiasa berperang antar suku karena hal-hal yang sepele seperti memperebutkan sumber air. Tidak ada hukum yang disepakati untuk ditaati bersama, karena itu siapa yang kuat dialah yang menang dan berkuasa. yang lemah pasti pada posisi tertindas. Masyarakat seperti ini disebut sebagai kanibal, yaitu masyarakat yang situasi kehidupan sosialnya melakukan segala cara untuk meraih tujuan. Pada aspek kehidupan ekonomi, bagi suku baduy pedalaman menyandarkan kehidupannya pada beternak unta dan biri-biri. Sedangkan masyarakat yang tinggal di perkotaan melakukan perdagangan.

Dari uraian tersebut, tentu kamu dapat menilai betapa beratnya perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. di Mekah guna menyiarkan agama Islam, menyempurnakan akhlak masyarakat masa itu. Apakah di lingkungan kamu masih terdapat ciri-ciri masyarakat seperti digambarkan di atas, yaitu menyembah selain Allah dan mengalami kemerosotan moral? Langkah-langkah apa yang akan kamu lakukan jika ingin mengubah masyarakat ke kondisi yang lebih baik? Sejarah dakwah Nabi Muhammad saw. di Mekah berikut ini diharapkan bisa memberi teladan bagi kamu dalam menjalankan syiar Islam.

Sabtu, 18 Juli 2020

PROSES BERDIRINYA DAN TERBENTUKNYA DINASTI ABBASIYAH

PROSES BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH



A. Sejarah Berdirinya Daulah Abbasiyah Sejarah terbentuknya Daulah Abbasiyah tidak dapat terlepas dari perjalanan sejarah Daulah Umayyah. Pada awal terbentuknya, Daulah Umayyah mengalami masa kejayaan. Beragam prestasi mampu dicapai pemerintah Daulah Umayyah, keadaan ini berlangsung hingga masa pemerintahan khalifah al Walid bin Abdul Malik. Setelah itu, kemunduran Daulah Umayyah makin tampak. Sepeninggal khalifah Hisyam bin Abdul Malik, kemunduran itu semakin tampak. Kekacauan terjadi dimana-mana, pertikaian internal keluarga tak terhindarkan. 

Mari mengamati gambar berikut ini..!

1. Pengamatanku




2. Pertanyaanku Setelah kalian mengamati beberapa gambar-gambar, muncul dalam imajinasi kalian tentang peristiwa yang terjadi terkait proses berdirinya Daulah Abbasiyah. Pertanyaan apakah yang muncul dalam benak kalian...?. Mari bertanya tentang beragam peristiwa seputar berdirinya Daulah Abbasiyah.

 

3. Wawasanku Kalian akan memiliki wawasan lebih luas terkait terbentuknya daulah besar dalam sejarah Islam dimulai dengan membaca dan memahami teks tentang proses terbentuknya Daulah Abbasiyah, mari kita membaca dan memahami materi berikut:

A. Faktor Pendukung Terbentuknya Daulah Abbasiyah Tentunya kalian masih ingat tentang Daulah Umayyah yang berkuasa selama 90 tahun (660 – 750 M). Sejarawan mencatat cukup banyak kemajuan yang dicapai Daulah Umayyah, mulai wilayah kekuasaan yang membentang dari India hingga Afrika Utara, sistem administrasi pemerintahan yang tertata dengan rapih, penyebaran Islam hingga ke dataran Eropa, hingga kemajuan ilmu pengetahuan. Terbentuknya Daulah Abbasiyah disebabkan beberapa faktor pendukung.
 Antara lain :
1. Perpecahan internal keluarga Daulah Umayyah dan kekisruhan politik dalam negeri. 
2. Munculnya gerakan perlawanan terhadap pemerintah Daulah Umayah yang dilakukan oleh : kelompok Mawali, kelompok Dahaq bin Qais Asy-Syaibani, dan kelompok Syiah yang menilai tampuk kekuasaan khalifah adalah hak keturunan Ali bin Abi Thalib dan ingin menuntut balas atas terbunuhnya Husain bin Ali di Karbala.
3. Perpecahan kelompok suku Arab Utara dan Arab Selatan. 
4. Kekecewaan Ulama dan tokoh agama kepada Khalifah Marwan bin Muhammad yang dinilai tidak memiliki sikap negarawan yang baik. 
5. Wafatnya Khalifah Marwan bin Muhammad (khalifah terakhir Daulah Umayyah) setelah kalah dalam pertempuran di tepi sungai Zab, Irak di tahun 132 H/750 M.

B. Proses Berdirinya Daulah Abbasiyah Babak ketiga dalam drama besar politik Islam ditandai dengan berdirinya Daulah Abbasiyah, mereka menyebut dirinya dengan Daulah. Menandakan sebuah era baru, dan memang benar-benar menjadi era baru. Dinamakan Abbasiyah, karena pendiri Daulah ini merupakan keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, Bingkai Khazanah : - Mawali adalah orang-orang bukan Arab, saat ini biasa disebut ‘Ajam. - Syiah adalah pengikut setia  Ali bin Abi Thalib.   paman Nabi Muhammad Saw. Daulah Abbasiyah berkuasa dalam rentang waktu yang panjang selama 550 tahun (750 – 1258 M). Berpusat di Baghdad, Irak sebagai ibu kota, wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah membentang luas meliputi Asia Barat, Asia Selatan, Afrika Utara hingga Eropa. Lembar sejarah dari proses berdirinya Daulah Abbasiyah tidak terlepas dari sosok keluarga Bani Abbas bernama Ali bin Abdullah. Sebagai sepupu Rasulullah Saw, ia merasa yang paling berhak menjadi pemimpin setelah Khulafa’ur Rasyidin. Ali bin Abdullah melakukan propaganda anti Daulah Umayyah, ia mencoba meraih simpati masyarakat luas dengan menamakan gerakan propagandanya sebagai keluarga Bani Hasyim. Tetapi sebelum usahanya itu terwujud, Ali bin Abdullah wafat di tahun 124 H/742 M. Ambisi Ali bin Abdullah selanjutnya dilanjukan oleh putranya yaitu Muhammad bin Ali. Dalam rangka mewujudkan cita-citanya itu ia menjadikan kota Kuffah dan Khurasan sebagai basis gerakan anti Daulah Umayyah. Di kota Khurasan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari pemimpin masyarakat Khurasan yaitu Abu Muslim al Khurasani. Namun, Muhammad bin Ali lebih dulu wafat di tahun 127 H/745 M sebelum cita-citanya meraih kekuasaan terwujud. Ibrahim bin Muhammad bertekad melanjutkan perjuangan para pendahulunya sepeninggal Muhammad bin Ali. Gerakan yang dilakukan Ibrahim bin Muhammad mendapat perhatian khusus dari Khalifah Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Daulah Umayyah) dan menganggapnya sebagai ancaman negara. Untuk meredam gerakan Ibrahim bin Muhammad, pada tahun 128 H/746 M Ibrahim bin Muhammad tertangkap oleh pasukan Daulah Umayyah dan wafat dalam pengasingan. Wafatnya Ibrahim bin Muhammad membuat keluarga Bani Abbas semakin gencar melakukan pemberontakan. Dibantu oleh Abu Muslim Al-Khurasani, Abu Abbas As-Saffah dan Abu Ja’far Al-Mansyur melakukan penyerangan terhadap kota-kota penting Daulah Umayyah dan menguasainya. Keadaan ini membuat Khalifah Marwan bin Muhammad tidak bisa berbuat apa-apa hingga ia terkepung di kota Damaskus, Syiria. Walaupun ia berhasil melarikan diri ke Yordania dan Palestina, Khalifah Marwan bin Muhammad tertangkap di kota Fustat, Mesir dan wafat di sana. Dengan wafatnya Khalifah Marwan bin Muhammad, maka berakhirlah era pemerintahan Daulah Umayyah. 


Para Penguasa Daulah Abbasiyah Daulah Abbasiyah berkuasa selama lima setengah abad (132 – 656 H / 750 – 1258 M). Dalam masa kekuasaannya tersebut ada 37 khalifah yang pernah memimpin, mereka telah banyak mengukir prestasi dalam berbagai bidang seperti, kemajuan di bidang administrasi pemerintahan, kemajuan bidang ilmu pengetahuan, kemajuan bidang politik, kemajuan bidang militer, kemajuan bidang ekonomi, arsitektur, dan sebagianya. 
1. Abul Abbas As-Saffah (Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin AlAbbas), (750 – 754 M). 
2. Abu Ja’far Al-Mansyur (Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas), (754 – 775 M). 
3. Al-Mahdi (Muhammad bin Abu Ja’far Al-Mansyur), (775 – 785 M).
4. Musa Al-Hadi (Musa bin Al-Mahdi bin Al-Mansyur), (785 – 786 M). 
5. Harun Ar-Rasyid (Harun bin Al-Mahdi bin Al-Mansyur), (786 – 809 M). 
6. Al-Amin (Muhammad bin Harun Ar-Rasyid), (809 – 813 M). 
7. Al-Ma’mun (Abdullah bin Harun Ar-Rasyid), (813 – 833 M). 
8. Al-Mu’tashim (Muhammad bib Harun Ar-Rasyid), (833 – 842 M). 
9. Al Watsiq Billah (Harun bin Al-Mu’tashim bin Ar-Rasyid), (842 – 847 M). 
10. Al Mutawakkil ‘Alallah (Ja’far bin Al-Mu’tashim bin Ar-Rasyid), (847 – 861 M). 
11. Al-Muntashir Billah (Muhammad bin Al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim), (861 – 862 M). 
12. Al-Musta’in (Al-Abbas bin Al-Mutawakkil), (862-866 M). 
13. Al-Mu’tazz Billah (Muhammad bin Al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim), (866 – 869 M). 
14. Al-Muhtadi Billah (Muhammad Al-Watsiq bin Al-Mu’tashim), (869 – 870 M). 
15. Al-Mu’tamad ‘Alallah (Ahmad bin Al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim), (870 – 892 M). 
16. Al Mu’tadhid Billah (Ahmad bin Al-mUwaffaq Thalhah bin Al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim), (892 – 902 M). 
17. Al-Muktafi Billah (Ali bin Al-Mu’tadhid), (902 – 908 M). 
18. Al Muqtadir Billah (Ja’far bin Al-Mu’tadhid), (908 – 932 M). 
19. Al-Qahir Billah (Muhammad bin Al-Mu’tadhid), (932 – 934 M).
 20. Ar-Radhi Billah (Muhammad bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid), (934 – 940 M).
 21. Al-Muttaqi Lillah (Ibrahim bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid), (940 – 944 M). 
22. Al-Mustakfi Billah (Ali bin Al-Mu’tadhid), (944 – 946 M). 
23. Al-Muthi’ Lillah (Al-Fadhl bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid), (946 – 974 M).
24. At-Thai’ Lillah (Abdul Karim bin Al-Muthi’ bin Al-Muqtadhid), (974 – 991 M) 
25. Al-Qadir Billah (Ahmad bin Ishaq bin Al-Muqtadir), (991 – 1031 M). 
26. Al-Qaim Biamirillah (Abdullah bin Al-Qadir Billah), (1031 – 1075 M). 
27. Al-Muqtadi Biamirillah (Abdullah bin Muhammad bin Al-Qaim Biamirillah), (1075 – 1094 M). 
28. Al-Mustazhhir Billah (Ahmad bin Al-Muqtadi Biamirillah), (1094 – 1118 M). 
29. Al-Mustarsyid Billah (Al-Fadhl bin Al-Mustazhhir Billah), (1118 – 1135 M). 
30. Al-Rasyid Billah (Mansyur bin Al-Mustazhhir Billah), (1135 – 1136 M). 
31. Al-Muqtafi Liamirillah (Muhammad bin Al-Mustazhhir Billah), (1136 – 1160 M). 
32. Al-Mustanjid Billah (Yusuf bin Al-Muqtafi Liamirillah), (1160 – 1170 M) 
33. Al-Mustadhi’ Biamirillah (Al-Hasan bin Al-Mustanjid Billah), (1170 – 1180 M). 
34. An-Nashir Lidinillah (Ahmad bin Al-Mustadhi Biamirillah), (1180 – 1225 M). 
35. Az-Zahir Biamirillah (Muhammad bin An-Nashir Lidinillah), (1225 – 1226 M). 
36. Al-Mustanshir Billah (Mansyur bin Az-Zahir Biamirillah), (1226 – 1242 M). 
37. Al-Musta’shim Billah (Abdullah bin Al-Mustanshir Billah), (1242–1258 M).
 



Bingkai Khazanah : - Daulah Abbasiyah menerapkan sistem pemerintahan Monarki, dimana Khalifah dipilih berdasarkan garis keturunan dan rakyat harus tunduk menrimanya. - Di Indonesia menerapkan Demokrasi Pancasila, dimana Presiden dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum (PEMILU)

e. Keruntuhan Daulah Abbasiyah Kekhilafahan daulah Abbasiyah tidak dapat lagi mengendalikan dan mengawasi jalannya roda pemrintahan daerah di wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah sepanjang kawasan Mediterania dengan Asia Tengah. Akibatnya, muncul disintegrasi antara kekuatan-kekuatan sosial dan kelompok-kelompok moral. Seiring dengan itu, terjadi kehancuran semangat juang bangsa Arab, perbudakkan, kehidupan mewah, minum-minuman keras, nyanyinyaian yang rutin dipertunjukan dilingkungan istnana, merupakan faktor lain yangmelemahkan semangat juang dan menghasilkan generasi pewaris takhta yang lemah. Ada dua faktor penyebab keruntuhan Daulah Abbasiyah, faktor internal dan faktor eksternal. 

1. Faktor internal lebih banyak berperan sebagai penyebab kehancuran Daulah Abbasiyah diantaranya ;

a. Hubbud Dunya (kecintaan yang berlebihan terhadap kemewahan dunia). Periode awal Daulah Abbasiyah berkuasa menghasilkan kemakmuran dan kemewahan hidup di kalangan penguasa. Kondisi ini mendorong generasi khalifah berikutnya untuk hidup lebih mewah dari khalifah sebelumnya, hal ini menyebabkan pemborosan uang kas negara. 

b. Konflik keluarga Daulah Abbasiyah yang berujung pada perebutan kekuasaan. Pada periode kedua kekhalifahan Daulah Abbasiyah, perebutan kekuasaan nampak jelas. Pada periode ini, hanya empat khalifah yang meninggal secara wajar. Selebihnya para khalifah ada yang meninggal diracun, dibunuh, dan diturunkan paksa. 

c. Meningkatnya konflik keagamaan. Konflik antara kelompok Sunni-Syiah sejak masa khalifah Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan tidak pernah selesai hingga masa Daulah Abbasiyah. 

d. Melemahnya jiwa patriotisme dan Nasionalisme. Daulah Abbasiyah banyak memperoleh kemakmuran, sehingga mampu membayar tentara asing dari Turki untuk menjaga keamanan dan pertahanan negara. Persoalan ini memicu merosotnya jiwa patriotisme dan nasionalisme rakyat Daulah Abbasiyah.

2. Faktor eksternal ; Penyerangan tentara Mongol atas Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) yang dipimpin oleh Hulagu Khan pada 1258 M, saat itu Daulah Abbasiyah dipimpin oleh Al-Mu’tashim Billah. Setelah kota Baghdad hancur dan khalifah Daulah Abbasiyah terbunuh, berakhirlah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia muslim tanpa khalifah yang namanya biasa disebut-sebut dalam sholat Jum’at.  

a. Banyak muncul pemberontakan Setelah periode kedua, kekhalifahan Daulah Abbasiyah tidak sekuat para pendahulunya. Kebijakan pemerintahan yang tidak berpihak kepada rakyat, tingginya pajak yang dibebankan kepada rakyat, mengakibatkan banyak daerah-daerah yang memberontak dan memisahkan diri dari pemerintah pusat Daulah Abbasiyah. 

b. Dominasi bangsa Turki dan bangsa Persia Bangsa Turki dan bangsa Persia (Bani Buwaihi) banyak menguasai pemerintahan dan mempengaruhi kebijakan khalifah. Segala persoalan terkait jalannya roda pemerintahan dikendalikan oleh bangsa Turki dan bangsa Persia. Kedudukan khalifah Daulah Abbasiyah benar-benar hanya sebatas pemerintahan boneka saja. 







































Jumat, 17 Juli 2020

Kondisi Masyarakat Arab sebelum Islam Datang

assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh....

selamat pagi anak-anak semoga kita semua diberikan kesehatan.aamiin
materi pertemuan hari ini berjudul 'KONDISI MASYARAKAT ARAB SEBELUM ISLAM DATANG'
Simak Vidio dibawah ini!



1. Sebutkan 5 Prilaku Negatif bangsa Arab sebelum Islam datang!
2. Sebuktan 5 prilaku positif bangsa Arab sebelum Islam datang!



Kamis, 16 Juli 2020

Sejarah Pra Islam

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Selamat pagi anak-anaku semoga kita semua diberikan kesehatan dan dijauhkan dari wabah Covid 19 dan keluarga kita diberikan kelancaran Rizki. Aamiin 🤲🤲🤲

Langsung aja tugas hari ini anak-anak mengamati dan meneliti, mendiskusikan Vidio tentang Pra Islam di bawah ini 



1.sebutkan prilaku Negatif bangsa Arab Pra Islam 
2. Sebutkan prilaku positif bangsa Arab Pra Islam 







Runtuhnya Dinasti Umayyah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain: 1. Sistem p...