Nahdlatul Ulama merupakan salah satu
organisasi sosial yang berperan dalam kehidupan sosial dan politik di
Indonesia, sejak masa pra kemerdekaan hingga saat ini.
Dalam perjalanannya, NU, sempat
menghadapi dilema untuk bergerak sepenuhnya di bidang sosial atau ikut dalam
kehidupan politik.
Sempat menyatakan kembali ke Khittah
NU dan tidak terjun ke persaingan politik, Nahdlatul Ulama kemudian diwakili
beberapa partai setelah kebijakan Asas Tunggal di bawah pemerintah Suharto
dilupakan.
Sejalan dengan Muktamar NU yang ke
32 di Makassar tanggal 22-27 Maret 2010, BBC Indonesia menurunkan laporan
khusus tentang organisasi sosial Islam terbesar di Indonesia ini.
Dalam bagian ini anda bisa melihat
tonggak-tonggak penting dalam perjalanan NU sejauh ini.
Masa
awal
Ketika Raja Ibnu Saud hendak
menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi di Mekah, sebagian kalangan
pesantren, yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermazhab.
Karena sikap yang berbeda itu,
kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925
dan tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres
Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Raja Ibnu Saud belakangan
mengurungkan niatnya dan di Mekah -hingga kini- bebas dilaksanakan ibadah yang
sesuai dengan mazhab masing-masing.
Itulah peran kalangan pesantren
internasional yang pertama -seperti ditulis dalam situs Nahdlatul Ulama.
Dan keberhasilan memperjuangkan
kebebasan bermazhab itu kemudian mendorong kesepakatan membentuk organisasi yang
bernama Nahdlatul Ulama -yang artinya Kebangkitan Ulama- pada taggal 31 Januari
1926 dengan dua tokoh utamanya: Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Wahab Hasbullah.
Organisasi ini dipimpin oleh KH.
Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar dengan Khittah NU sebagai dasar dan rujukan
warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan
politik.
Kebangsaan
dan Kemasyarakatan
Pada masa penjajahan, NU bersama
dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan Islam lainnya -sepeti Serikat
Dagang Islam dan Muhammadiyah- secara terbuka menentang kolonialisme.
NU antara lain mengeluarkan
pernyataan yang menolak kerja rodi maupun milisi.
Cikal bakal NU -yang disusun oleh
Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Wahab Hasbullah- memang berupa organisasi
pergerakan seperti Nahdlatul Wathan, yang artinya Kebangkitan Tanah Air pada
1916.
Kemudian dua organisasi lain
berdiri, yaitu Nahdlatul Tujjar dan sekolah Taswirul Afkar sebagai wahana
pendidikan sosial politik dan keagamaan kaum santri.
"Ketiganya menjadi latar
belakang sebelum NU berdiri. Nilai-nilai ketiga lembaga itu yang menjadi sebuah
dasar untuk NU ke depan," kata Profesor Abdul A'la dari IAIN Sunan Ampel
kepada BBC Indonesia.

Keterangan gambar,
Kiai Hasyim Asy'ari memimpin NU
ketika didirikan tahun 1926
Dengan nilai-nilai tersebut, maka
politik kebangsaan dan kerakyatan di Nahdlatul Ulama tidak bisa ditawar-tawar
lagi.
"NKRI setelah merdeka sudah
tidak perlu dipersoalkan lagi. Kemudian politik kerakyatan, bagaimana
memberdayakan masyarakat pedesaan menjadi masyarakat madani yang kokoh."
"Dua hal itu merupakan benang
merah yang sama sekali tidak bisa diabaikan kalau berbicara tentang NU. Di atas
kertas, itu merupakan komitmen," kata Profesor Abdul A'la.
Partai
politik
Pada tahun 1952, Nahdlatul Ulama
meninggalkan Masyumi dan setelah melalui perdebatan internal yang hangat, NU
memproklamasikan diri sebagai partai politik pada tahun 1954.
"Tarik menarik kondisi sosial
politik saat itu memang membuat NU terjebak dalam pusaran politik praktis
dengan segala untung ruginya," kata Profesor Abdul A'la.
Setahun kemudian, dalam pemilu 1955,
Partai Nahdlatul Ulama berhasil meraih suara terbesar ketiga dari 29 peserta
pemilu: di bawah PNI dan Masyumi namun di atas PKI serta PSI.
Dalam pemilu 1971, NU bahkan
berhasil berada di urutan ke dua, di bawah Golkar yang menikmati sejumlah
fasilitas dan kemudahan dari pemerintah.
Namun menurut Profesor Abdul A'la,
terjunnya NU ke partai politik kemudian menimbulkan sejumlah masalah.
"Realitas menunjukkan ketika
terjun menjadi partai politik resmi, banyak lembaga-lembaga di NU, misanya
tendang dakwah dan yang lainnya menjadi terbengkalai," tambahnya.
Oleh karena itu di kalangan NU,
menurut Prof Abdul A'la, ada semacam komitmen bahwa terlibat dalam politik
praktis kurang bermanfaat untuk pengembangan visi kebangsaan dan kerakyatan NU.
Kembali
ke khittah
Gagasan NU untuk kembali ke khittah
1926 sebenarnya sudah mulai muncul pada Muktamar NU ke-26 di Semarang pada
tahun 1979, setelah pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1975 menetapkan asas
tunggal dalam partai politik dengan menyederhanakan peserta pemilu menjadi
Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Demokrasi Indonesia.
NU sempat masuk ke dalam PPP, dengan
56 anggota NU dari total 99 anggota Fraksi Persatuan Pembangunan di DPR, dan
sudah muncul keinginan untuk keluar dari partai politik berlambang khabah
tersebut.
Dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo
tahun 1984 akhirnya diputuskan untuk kembali ke khittah 1926 dan keluar dari
area politik praktis.
"Para elite NU dan mendapat
dukungan dari masayarkat penuh, kemudian kembali ke khittah 1926, ke awal
berdirinya NU," kenang Abdu' A'la.
Sejalan dengan reformasi politik
pasca jatuhnya Presiden Suharto, muncul Partai Kebangkitan Bangsa, PKB, yang
merupakan saluran politik dari orang-orang dengan latar belakang NU.
"Menurut saya, seharusnya NU
sebagai jamaah jangan terlalu masuk ke dalam politik praktis lagi,"
katanya.
"Okelah PKB didirikan oleh NU
bagi orang yang mendirikan NU ke politik praktis. Tapi NU sebagai jamaah jangan
mendukung total PKB karena itu hanya bagian kecil dari NU."
Profesor Abdul A'la mengatakan
semestinya NU mendukung semua orang dengan berbagai latar belakang NU yang
berada di partai manapun.
"Jangan PKB justru kemudian
mengangkangi NU. Itu dulu yang sempat terjadi."
Tokoh
sentral

Keterangan gambar,
Gus Dur bukan lagi sekedar pemimpin
NU tapi menjadi tokoh nasional
Tahun 1984, NU memilih Kyai Haji
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama.
Kepemimpinan Gus Dur di NU juga
mengantarkan dia sebagai tokoh nasional dengan gagasan toleransi kebangsaaan
yang menjalin hubungan antar umat beragama.
Gus Dur bahkan kemudian terpilih
sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1999, sebelum dijatuhkan oleh
MPR pada tahun 2001.
Tapi apakah sosok Gus Dur sebagai
pemimpin nasional tidak membuat perannya menjadi amat sentral di NU?
Profesor Abdul A'la mengakui
kharisma Gus Dur mempunyai kelebihan dan kelemahannya bagi NU.
"Di satu sisi, kehadiran Gus
Dur di pentas nasional membuat orang tidak malu-malu mengaku sebagai orang NU.
Menjadi semacam semangat bagi anak-anak muda NU untuk tidak malu lagi untuk
mengaku sebagai NU."
"Kelemahannya, karena terlalu
besar kadang-kadang apa yang disampaikan Gus dipatuhi secara tanpa tawar
menawar lagi. Padahal Gus Dur maunya tidak seperti itu."
"Tapi karena terlalu kuat dan
karena tidak ada yang menandingi, maka yang terjadi justru bertentangan dengan
kehendak Gus Dur sendiri yang ingin NU menjadi masyarakat madani yang kritis
tapi tetap apresiatif."
Ketika Abdurrahman Wahid meninggal
dunia pada 30 Desember 2009, bukan hanya warga NU atau umat Islam saja yang
ikut berduka tapi seluruh warga negara Indonesia dari berbagai suku, agama,
maupun lapisan sosial ekonomi.
Delapan puluh tiga tahun sejak
berdiri, seluruh rakyat Indonesia berduka atas tokoh NU yang membuktikan
tegaknya prinsip kebangsaan dan kerakyatan sesuai khittah 1926.
Beban kebangsaan dan kerakyatan itu
agaknya ikut membayang-bayangi Muktamar ke-30 di Makassar.
Presensi Kehadiran
UH Aswaja 2 Semt II
UH 3 Aswaja Sem II